Panorama Wisata

welcome to our blog

We are Magcro

Footer Widget 3

Diberdayakan oleh Blogger.

Footer Widget 1

Followers

Footer Widget 2

AIR KRAN SIAP MINUM

Labels

Pages

Blogger news

Download

BTricks

BThemes

Recent Posts

Pages - Menu

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Jelajah Garut


    Pada hamparan Kebun Bunga, lokasi wisata di Garut.

    Di sanalah para gadis model tinggi semampai berjalan melenggang di atas panggung peragaan busana.

    Dalam acara digelar Rabu (27/6) sore cerah itu, perempuan-perempuan ini mengenakan gaun dari tenun cantik, secantik bunga-bunga sekitarnya.

    Tengoklah sepotong gaun berwarna dasar kuning bermotifkan bunga berukuran besar berwarna merah.



    Motif bunga juga ada pada gaun putih panjang bersiluet lurus memunculkan kesan feminin dan elegan.

    Tenun bermotif bunga besar, dengan warna merah muda, juga terlihat pada desain berupa rok pendek mekar bagian bawahnya, dipadukan blus pendek brokat berwarna senada.

    Muncul kesan genit dari busana ini.

    Memunculkan gaya modern, tenun-tenun ini dipadukan material lain.

    Selain brokat dan lace, dibuat menjadi rok, blus, blazer, dan lapisan bagian atas gaun, sebagai detail dibuat dari manik-manik dan bebatuan beraneka corak dan warna.

    Untaian manik-manik ini ada juga, menjadi bagia salah satu gaun bagian punggung.

    Warna-warna cerah, seperti kuning, biru, merah muda, hijau muda, juga terlihat pada tenun dibuat dalam satu warna dengan teknik dobby, ataupun dengan motif geometris.

    Selain dipadukan material lain, variasi detail dibuat berbentuk lipit di bagian bawah gaun atau bahu dibuat menggelembung.

    “Sentuhan modern”

    Adalah Sebastian ”Seba” Gunawan memberi sentuhan modern pada tenun Garut, yang mencoba memunculkan ciri khasnya.

    Perancang selama ini mendesain busana-busana indah berbahan kain impor itu, kali ini dituntut menerapkan idenya dalam kain tradisional.

    Bersama Cita Tenun Indonesia (CTI), desainer tekstil Ae Kusna, dan desainer interior Agam Riyadi, Seba membantu para penenun di Garut mengembangkan tenun sutra yang belum memiliki karakter khas dan belum seterkenal batik Garut.

    Salah satunya dalam hal motif.

    Seperti dikatakan Amin Iskandar, pemilik Rumah Tenun Amin, para penenun di Garut, termasuk di tempatnya, umumnya membuatnya putihan.

    Tenun sutra warna putih ini dibuat, memasok kebutuhan para pembatik.

    Ketika pendampingan dilakukan, dibuatlah motif dan warna baru, di antaranya motif bunga sekar dan motif tempayan dengan warna-warna cerah.

    ”Memang bentuknya tak bisa begitu halus karena motif dalam tenun prinsipnya disusun dari bentuk kotak-kotak,” kata Seba.

    Ide dari perancang juga pernah menggunakan tenun Jambi untuk sebuah acara mode di Jakarta ini, juga melahirkan kain dengan warna bergradasi.

    Salah satu wujudnya terlihat pada gaun satu pundak dengan warna kuning muda bergradasi ke putih, lalu merah muda.

    Selain busana, transformasi tenun sutra Garut juga diaplikasikan dalam produk interior, seperti tirai, taplak meja, dan sarung bantal karya Agam.

    “Meningkatkan kesejahteraan”

    Ketua CTI Okke Hatta Rajasa, yang mendampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ketika meresmikan Kampung Tenun Panawuan, mengatakan, Garut sebenarnya pernah mengenal tenun ikat, tetapi punah.

    Untuk itu, seperti pernah dilakukan di daerah lain, Bali, Baduy (Banten), Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara, CTI membina para penenun di Garut.

    ”Ini langkah awal. Kami ingin agar penenun bisa menguasai lebih dulu dasar-dasar menenun dengan benar, lalu berkreasi membuat ciri khasnya. Ke depannya, silakan saja jika ada desainer lai tertarik untu bekerja sama,” tutur Okke.

    Kolaborasi penenun dan perancang menjadi salah satu jalan memopulerkan tenun yang keberadaannya menyebar di Indonesia.

    Sentuhan tangan desainer membuat tenun menjadi lebih indah, sekaligus (diharapkan) meningkatkan kesejahteraan penenun karena nilai jual meningkat, katanya.

    Yulia Sapthiani/Kompas

  • Awug selai jahe, dipadu gula merah sangat berasa dan beraroma jahe ( Foto:Koleksi pribadi )
    Awug, selama ini dikenal masih asli seperti pertama kali dikenalkan sejak beberapa dasa warsa lalu.
    Oleh para orang tua pengolah dan penjual awug dari berbagai kampung, diantarany Kampung Ciseke dan Neglasari RW. 17 Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul Garut.
    Awug Panawuan original, seperti dikenal selama ini belum ada rekayasa tampil bersama pendamping berupa nasi ketan hitam, kelepon dan gurandil … biasa dijajakan seputar kota Garut oleh pengrajin sekaligus penjual (Foto:Koleksi pribadi)
    Beberapa diantara penerus pengrajin penganan berbahan baku tepung beras ini, Esin(27) menjalani selama tiga tahun, sekaligus menambah penghasilan keluarga.
    Meski harus berperan sebagai ibu rumah tangga, namun tetap semangat menjalani profesinya, produsen sekaligus memasarkan sendiri produk awugnya.
    Tak kalah uletnya, juga dilakukan Tini(41), kendati harus berjalan kaki tak kurang dari tiga hingga lima kilometer berkeliling kota Garut.
    Mereka lah, selama ini melestarikan penganan tradisional berasa manis bergula merah itu.
    Awug selai cabe, dengan paduan selai tomat ditambah cabe berasa pedas dan menyegarkan (Foto:Koleksi pribadi)
    Awug, ternyata tetap populer makanan pilihan di kota Garut, bahkan bisa bersanding dan bersaing dengan aneka jenis produk kuliner kebarat-baratan, yang belum jelas kadar keamanannya dikonsumsi.
    Namun tak ada salahnya, awug pun disajikan dengan aneka isi dan rasa seperti dilakukan beragam uji coba di kampung Panawuan, semisal awug selai tomat dapat menghipnotis pencicip dan penggemar awug.
    Awug ayam jamur, baik dijadikan menu sarapan pagi selain mengandung karbohidrat tinggi, cukup menunjang aktifitas, kandungan protein dari ayam jamurnya sangat memenuhi kebutuhan gizi harian (Foto:Koleksi pribadi)
    Dengan aroma khas tomat, lebih segar karena terdapat unsur vitamin C berasal dari buah tomat, berasa sedikit asam menggugah selera, ditambah warna merah membuat tampilan makin lebih beda.
    Ny Esin (27) pembuat sekaligus penjual awug dalam tampilan asli, seperti selama ini diturunkan dari para pendahulu (Foto:Koleksi pribadi)
    Awug selai jahe beraroma dan berasa sekali jahe asli alami, tanpa bahan tambahan makanan kimiawi.
    Mampu meyakinkan panikmat awug, dapat lebih hangat berasal dari jahe yang memang menghangatkan.
    Awug selai cabe, semakin menambah kekayaan koleksi kuliner berbahan baku tepung beras asli Panawuan tersebut.
    Rasa pedasnya sangat mengejutkan dan menghangatkan, dari selai campuran tomat ditambah cabe segar.
    Awug ayam jamur, baik dijadikan menu sarapan pagi, selain mengandung karbohidrat tinggi, guna menunjang aktifitas.
    Kandungan protein ayam jamurnya, dipastikan sangat memenuhi kebutuhan gizi harian.
    Awug dengan selai tomat menyegarkan, sangat beda dari awug biasanya, lebih bervitamin (Foto:Koleksi pribadi)
    Aneka sajian awug itu, semakin kaya kreasi dan innovasi, so pasti menimbulkan rasa penasaran luar biasa bagi anda yang belum mencicipinya.
    Silakan kunjungi kami di Panawuan RT. 03/08 Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, produsen “Aneka Awug Kreasi”.
    Tini (41) pembuat dan penjual awug asli tanpa kreasi baru, setia dan tekun mempertahankan keberadaan awug tradisional (Foto:Koleksi pribadi)
    *****(SB/John).

Comments

The Visitors says