Panorama Wisata

welcome to our blog

We are Magcro

Footer Widget 3

Diberdayakan oleh Blogger.

Footer Widget 1

Followers

Footer Widget 2

AIR KRAN SIAP MINUM

Labels

Pages

Blogger news

Download

BTricks

BThemes

Recent Posts

Pages - Menu

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Candi Cangkuang

    Candi Cangkuang

    Jelajah GARUT,  - Objek wisata Candi Cangkuang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, jadi pilihan pengunjung dari berbagai daerah luar kota saat hari pertama Lebaran, Minggu (19/8/2012).

    Pengunjung mulai berdatangan menjelang siang menggunakan kendaraan mobil pribadi dan sepeda motor berplat nomor polisi luar kota seperti Bandung dan Jakarta warga kota Garut sendiri.

    Pengunjung kebanyakan datang bersama anggota keluarganya untuk sekedar berwisata melihat bangunan candi peninggalan zaman Hindu.


    Bahkan pengunjung tampak ramai mendatangi Kampung adat Pulo, Kecamatan Leles yang lokasinya dekat dengan candi Cangkuang.

    Selain melihat candi dan Kampung Pulo, pengunjung juga bersantai menikmati keindahan alam yang masih asri sambil melihat danau Cangkuang.

    Salah seorang wisatawan asal Bandung, Arif mengatakan sengaja berkunjung ke Candi Cangkuang untuk mengisi hari libur Lebaran.

    Selain mengunjungi Candi Cangkuang, Arif berencana berwisata ke objek wisata Cipanas Garut, tempat pemandian air panas alami."Saya juga akan datang ke Cipanas Garut dan akan menginap disana," katanya.

    Sementara itu, ramainya wisatawan berkunjung ke objek wisata Candi Cangkuang menyebabkan arus lalu lintas di jalur wisata tersebut padat.

    Sumber : ANTARA
    Editor :  Benny N Joewono


  • Dari Jakarta, Garut begitu mudah dicapai. Garut menyimpan legenda-legenda menarik yang cocok bagi penggemar kisah-kisah magis. Beberapa kerajaan tua pernah bermukim di Garut.Selain kawasan Cipanas sarat tokoh-tokoh legenda, pun hutan Leuweung Sancang di Garut selatan. Belum lagi pantai-pantai penuh cerita di pesisir selatan Garut.
    Salah satu obyek yang paling menarik sekalligus misterius, Candi Cangkuang.Tertarik menyingkap kemagisan Garut? Coba rencanakan pelesir ke Garut di akhir pekan ini. Jika Anda dari Jakarta, sepulang kerja langsung saja arahkan perjalanan ke Garut dengan naik mobil pribadi atau bus. Waktu tempuh sekitar 4 jam melalui tol Cipularang.




    Pasar Ceplak
    Jumat. Jika Anda berangkat sore, maka tiba di Garut pastilah sudah malam. Nah, di saat perut keroncongan, silahkan berburu makan malam di Pasar Ceplak di Jalan Siliwangi.
    Walau disebut “pasar”, di siang hari kawasan ini hanyalah jalanan biasa. Di malam hari, deretan pedagang kaki lima menyulap jalanan menjadi tempat makan.Belum puas? Ayo mampir ke alun-alun kota Garut. Di malam hari, pasar malam menyemarakan alun-alun. Berbagai kuliner bisa Anda buru di sini, termasuk es goyobod khas Garut.

    Delman Domba
    Mau lebih seru lagi? Ayo jadi kusir deldom atau delman domba. Ya, biasanya delman pakai kuda. Uniknya di Garut, delman ditarik domba.Jangan keasyikan di alun-alun, saatnya mencari penginapan. Pilih saja hotel di kawasan JalanCipanas. Ada banyak hotel mulai dari kelas hotel murah seharga di bawah Rp100 ribu sampai kelas mahal mencapai jutaan rupiah. Tinggal pilih sesuai bujet Anda.
    Sabtu. Saatnya menjelajahi Garut. Arahkan perjalanan kawasan wisata Situ Bagendit. Jaraknya hanya sekitar empat kilometer dari kota Garut. Situ Bagendit berada di Kecamatan Banyuresmi.Masih ingat legenda Nyai Endit? Perempuan kaya namun pelit. Di tengah rakyat kelaparan, ia hidup bermewah-mewah menjadi tengkulak beras para petani miskin.


    Situ Bagendit
    Sampai suatu hari seorang nenek pengemis meminta makan kepada Nyai Endit. Dengan congkak, Nyai Endit mengusir nenek itu. Sang nenek dengan tongkat sakti mendatangkan air bah bagi Nyai Endit.Nyai Endit bersama hartanya pun tenggelam dalam air bah. Genangan air kemudian berubah menjadi danau. Danau itulah disebut Situ Bagendit.
    Di Situ Bagendit, Anda bisa menikmati panorama danau dengan latar belakang danau. Naik saja rakit bambu untuk berkeliling danau. Kelar berwisata di Situ Bagendit, saatnya berburu oleh-oleh. Mampir ke toko-toko, menjual kerajinan kulit domba di sekitar Jalan Ahmad Yani. Jaket kulit domba paling tenar.Tentu belum lengkap tanpa membawa pulang dodol Garut. Nah, Anda bisa berbelanja dodol Garut langsung di pabrik dodol Garut merek di Jl. Pasundan. Atau, pilihan lain menikmati cokelat isi dodol di Jl. Otista.
    Minggu. Pagi-pagi, setelah check-out dari hotel, lanjutkan perjalanan ke Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Leles. Candi ini berada di pulau berada di tengah danau.Jadi, Anda harus melewati Danau Cangkuang menuju pulau tersebut. Cukup naik rakit bambu tersedia dan Anda pun bisa menyeberang danau sambil menikmati panorama.
    Setelah itu, perjalanan dilanjutkan jalan kaki. Anda melewati Kampung Pulo. Di kampung ini terdapat enam rumah tradisional ditempati keturunan Arif Muhammad, penyebar agama Islam di desa ini.Jangan lupa menyapa para penghuni rumah dan mintalah izin melihat-lihat keunikan rumah-rumah tersebut. Di ujungnya terdapat masjid tua sama umurnya dengan rumah-rumah tersebut.
    Setelah melewati Kampung Pulo, lanjutkan jalan kaki ke kawasan Candi Cangkuang. Candi Hindu tersebut diperkirakan dari abad ke-8. Di dalam candi terdapat patung Siwa. Namun, asal usul pasti mengenai candi tersebut masih misteri sampai saat ini.Lepas jelajah Candi Cangkuang, saatnya kembali ke Jakarta. Anda cukup lewat tol Cipularang menuju Jakarta.
    Jika Anda datang bukan dari Jakarta atau dari luar Pulau Jawa, cara termudah ke Garut naik pesawat menuju Bandung. Barulah dari Bandung, Anda lanjutkan perjalanan darat ke Garut.

  • Konon, di Jawa Barat tak ada candi. Namun, keberadaan Candi Cangkuang mematahkan pernyataan tersebut. Meski belakangan muncul kontroversi mengenai candi ini.
    Tak menyurutkan kehadiran para turis untuk merasakan kemagisan Candi Cangkuang.
    Candi terletak di sebuah pulau kecil di tengah Danau Cangkuang tersebut, berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Inilah salah satu daya tarik pariwisata Garut. Jika Jawa Tengah punya Candi Prambanan, Jawa Barat hadir dengan Candi Cangkuang.
    Ya, keduanya merupakan candi dengan latar belakang agama Hindu. Candi Cangkuang setinggi hampir sembilan meter, memiliki pintu masuk ke dalam candi. Jika beruntung, Anda bisa masuk ke dalam candi. Mintalah izin dari petugas setempat.

    Di dalam, tinggi ruangan hanya dua meter dan luasnya sekitar tiga meter persegi. Di tengah ruangan, ada patung Siwa, konon berasal dari abad ke-8.
    “Orang-orang yang ziarah ke sini, terutama dari Bali, bilang kalau energinya sangat kuat,” ungkap Zaki, petugas Disbudpar Garut, bekerja di Candi Cangkuang.
    Candi Cangkuang memang begitu magis dan ibarat misteri yang berusaha disingkap. Tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya ia berdiri, pun siapa pembuatnya. Satu hal yang pasti, tatar (tanah) Sunda pernah menjadi lokasi kerajaan-kerajaan Hindu yang tua.
    Area candi ini ditemukan 1966. Sayangnya saat proses restorasi, batu-batu untuk membangun ulang candi banyak bukan batu aslinya. Anda bisa membedakan mana batu asli dan batu baru. Karena itu, semakin misterilah Candi ini. Bentuk asli candi tak pernah ada yang tahu.

    Foto : ist
    Islam di Cangkuang
    Jika Anda berkesempatan datang ke Candi Cangkuang, coba perhatikan persis di belakang candi terdapat sebuah makam Islam. Makam tersebut, makam Arif Muhammad. Seorang prajurit dari Kerajaan Mataram yang datang ke desa ini dan menyebarkan agama Islam ke penduduk setempat.
    Awalnya, penduduk di Desa Cangkuang memeluk kepercayaan animisme dan dinamisme. Kemudian memeluk Hindu. Makam bersanding dengan Candi Cangkuang ini semacam bukti toleransi masyarakat nusantara sejak masa lampau. Nilai-nilai toleransi sepertinya makin menyurut di masa kini.
    Bangunan masjid yang dibangun Arif Muhammad pada masa itu, masih ada hingga saat ini. Konon, danau Cangkuang pun terbentuk dari usaha Arif Muhammad membuat bendungan kebutuhan wudhu. Sampai saat ini, keturunan Arif Muhammad masih menetap di Kampung Pulo.
    Masjid tersebut, simbol dari anak laki-laki Arif Muhammad. Masjid berada di ujung jalan, tepat di tengah-tengah, seakan sebagai kepala bangunan kampung.
    Sementara di sisi kanan dan kiri terdapat enam rumah adat.
    Di rumah-rumah adat inilah, keturunan Arif Muhammad masih menetap. Arif Muhammad memiliki tujuh anak, enam anak perempuan dan satu anak laki-laki. Keenam rumah tersebut ditempati anak-anak perempuan Arif Muhammad.
    Ada sebuah tradisi di adat Sunda, rumah diwariskan ke garis anak perempuan. Rumah-rumah adat ini pun masih asri. Sebuah rumah letaknya terdekat dengan masjid, masih benar-benar sesuai aslinya. Rumah terbuat dari bambu dengan teras berada di depan.
    Pengunjung bisa saja masuk ke dalam rumah jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai keantikan rumah-rumah. Tentu saja, jangan asal masuk. Ucapkan salam dan minta izin dengan sopan ke pemilik rumah.
    Wisatawan yang hendak masuk ke area Candi Cangkuang, pasti melewati kampung ini. Sebuah akulturasi terjadi dengan tetap melakukan adat penduduk setempat. Salah satunya larangan untuk tidak berziarah di hari Rabu.
    Kelar keliling di Kampung Pulo dan Candi Cangkuang, pengunjung bisa mampir ke museum berada di dekat candi. Di museum, Anda bisa melihat kitab-kitab kuno bertuliskan aksara Arab. Oleh petugas setempat, pengunjung juga dijelaskan cara pembuatan kertas dari kulit kayu.
    Menuju Cangkuang
    Sangat mudah melakukan perjalanan ke Candi Cangkuang dari Jakarta. Cukup arahkan perjalanan ke Garut. Candi ini sendiri berada di tengah Danau Cangkuang seluas dua hektar.
    Nah, mencapai Candi Cangkuang, pengunjung harus menyebrangi danau dengan naik rakit bambu. Cukup membayar Rp4 ribu untuk pergi dan pulang naik rakit. Bisa juga sewa rakit jika pergi dalam rombongan berjumlah besar.
    Sebelumnya, beli dulu tiket masuk seharga Rp3 ribu. Jangan hilangkan tiket ini, karena nanti diminta kembali saat berada di kawasan candi.
    Naik rakit bambu juga memberi kesan tersendiri. Danau tenang dengan gunung sebagai latar belakang, menyuguhkan panorama cantik bagi mata. Apalagi rakit dijalankan dengan cara unik, yaitu menggunakan sebilah bambu panjang.
    Bambu ini sebagai dayung. Tetapi, alih-alih mendayung, bambu sepanjang tiga meter itu dihujamkan ke dasar danau, sebagai pijakan untuk mendorong rakit. Sesampai di pulau kecil, pengunjung pun berjalan melewati kios-kios suvenir.
    Ada beragam suvenir dijual. Tentu saja yang unik hiasan dari kayu dengan figur Candi Cangkuang. Ada pula miniatur rakit bambu. Pilihan lain gantungan kunci figur ikonik berupa Candi Cangkuang. Ya, Candi Cangkuang memang ikon wisata di Garut. Ia seakan membuktikan “urang” (orang) Sunda pun punya candi.
    Ni Luh Made Pertiwi F | A. Wisnubrata. (Kompas.com).

Comments

The Visitors says