Panorama Wisata

welcome to our blog

We are Magcro

Footer Widget 3

Diberdayakan oleh Blogger.

Footer Widget 1

Followers

Footer Widget 2

AIR KRAN SIAP MINUM

Labels

Pages

Blogger news

Download

BTricks

BThemes

Recent Posts

Pages - Menu

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio


  • Taman Satwa Cikembulan di Kadungora Garut, Jawa Barat, kian memikat wisatawan.
    Terbukti, pada momentum liburan panjang sekolah ini, tak hanya dikunjungi wisatawan dari dalam kota, melainkan juga banyak berasal dari luar kota.
    Foto : Ist
    Bahkan dari luar Pulau Jawa, maupun dari seluruh tanah air. Termasuk dari Mancanegara.
    Sehingga kunjungan pada rangkaian libur panjang sekolah itu, peningkatannya mencapai di atas seratus persen.
    Dibadingkan hari biasanya, ungkap Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, SE kepada Garut News, Minggu.
    Menyusul wisatawan, tak hanya asyik menyaksikan perilaku unik beragam spisies hewan langka yang dilindungi undang-undang.
    Foto : Ist
    Melainkan juga bisa sekaligus therafi kesehatan, juga memanjakan keluarga dengan permainan anak-anak.
    Malahan tersedia sajian kuliner etnik kearifan lokal, selama ini disediakan pengelola.
    Terdapat pula kuda tunggangan, becak dan motor mini, sambil menikmati sejuk serta indahnya panorama alam sekitarnya.

    Foto : Ist
    Koleksi beragam jenis hewan itu, sengaja disediakan, agar generasi muda tak hanya bisa melihat gambar dari buku.
    Melainkan bisa langsung menyaksikan dan bagaimana hewan hewan itu berinteraksi sesuai dengan ekologinya.
    Foto : Ist
    Karena itu, beragam penataan taman wisata ini, terus dilakukan.
    Agar enak dilihat dan perlu, ungkap Rudy Arifin membeberkan upayanya selama ini.
    Mengelola taman wisata secara proporsional dan professional, katanya.
    ******(RM/John).
  • Jelajah Garut


    Pada hamparan Kebun Bunga, lokasi wisata di Garut.

    Di sanalah para gadis model tinggi semampai berjalan melenggang di atas panggung peragaan busana.

    Dalam acara digelar Rabu (27/6) sore cerah itu, perempuan-perempuan ini mengenakan gaun dari tenun cantik, secantik bunga-bunga sekitarnya.

    Tengoklah sepotong gaun berwarna dasar kuning bermotifkan bunga berukuran besar berwarna merah.



    Motif bunga juga ada pada gaun putih panjang bersiluet lurus memunculkan kesan feminin dan elegan.

    Tenun bermotif bunga besar, dengan warna merah muda, juga terlihat pada desain berupa rok pendek mekar bagian bawahnya, dipadukan blus pendek brokat berwarna senada.

    Muncul kesan genit dari busana ini.

    Memunculkan gaya modern, tenun-tenun ini dipadukan material lain.

    Selain brokat dan lace, dibuat menjadi rok, blus, blazer, dan lapisan bagian atas gaun, sebagai detail dibuat dari manik-manik dan bebatuan beraneka corak dan warna.

    Untaian manik-manik ini ada juga, menjadi bagia salah satu gaun bagian punggung.

    Warna-warna cerah, seperti kuning, biru, merah muda, hijau muda, juga terlihat pada tenun dibuat dalam satu warna dengan teknik dobby, ataupun dengan motif geometris.

    Selain dipadukan material lain, variasi detail dibuat berbentuk lipit di bagian bawah gaun atau bahu dibuat menggelembung.

    “Sentuhan modern”

    Adalah Sebastian ”Seba” Gunawan memberi sentuhan modern pada tenun Garut, yang mencoba memunculkan ciri khasnya.

    Perancang selama ini mendesain busana-busana indah berbahan kain impor itu, kali ini dituntut menerapkan idenya dalam kain tradisional.

    Bersama Cita Tenun Indonesia (CTI), desainer tekstil Ae Kusna, dan desainer interior Agam Riyadi, Seba membantu para penenun di Garut mengembangkan tenun sutra yang belum memiliki karakter khas dan belum seterkenal batik Garut.

    Salah satunya dalam hal motif.

    Seperti dikatakan Amin Iskandar, pemilik Rumah Tenun Amin, para penenun di Garut, termasuk di tempatnya, umumnya membuatnya putihan.

    Tenun sutra warna putih ini dibuat, memasok kebutuhan para pembatik.

    Ketika pendampingan dilakukan, dibuatlah motif dan warna baru, di antaranya motif bunga sekar dan motif tempayan dengan warna-warna cerah.

    ”Memang bentuknya tak bisa begitu halus karena motif dalam tenun prinsipnya disusun dari bentuk kotak-kotak,” kata Seba.

    Ide dari perancang juga pernah menggunakan tenun Jambi untuk sebuah acara mode di Jakarta ini, juga melahirkan kain dengan warna bergradasi.

    Salah satu wujudnya terlihat pada gaun satu pundak dengan warna kuning muda bergradasi ke putih, lalu merah muda.

    Selain busana, transformasi tenun sutra Garut juga diaplikasikan dalam produk interior, seperti tirai, taplak meja, dan sarung bantal karya Agam.

    “Meningkatkan kesejahteraan”

    Ketua CTI Okke Hatta Rajasa, yang mendampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ketika meresmikan Kampung Tenun Panawuan, mengatakan, Garut sebenarnya pernah mengenal tenun ikat, tetapi punah.

    Untuk itu, seperti pernah dilakukan di daerah lain, Bali, Baduy (Banten), Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara, CTI membina para penenun di Garut.

    ”Ini langkah awal. Kami ingin agar penenun bisa menguasai lebih dulu dasar-dasar menenun dengan benar, lalu berkreasi membuat ciri khasnya. Ke depannya, silakan saja jika ada desainer lai tertarik untu bekerja sama,” tutur Okke.

    Kolaborasi penenun dan perancang menjadi salah satu jalan memopulerkan tenun yang keberadaannya menyebar di Indonesia.

    Sentuhan tangan desainer membuat tenun menjadi lebih indah, sekaligus (diharapkan) meningkatkan kesejahteraan penenun karena nilai jual meningkat, katanya.

    Yulia Sapthiani/Kompas

  • Jelajah Garut

    Sambil menyelam minum air. Pameo itu dipahami betul mantan Wakil Bupati Garut, Raden Dicky Candranegara.

    Lebih dikenal dengan nama Kang Dicky Chandra.

    Terbukti, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci menjalankan ibadah umrah.

    Dicky tak lupa membawa banyak chocodot dan dodol, makanan khas Garut, Jawa Barat.

    “Sekalian promosi membawa cokodot (cokelat isi dodol Garut). Ibadah ya ibadah, tapi kalau ada beberapa hal lain bisa dilakukan kenapa tidak, mudah-mudahan jadi berkah,” katanya di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, beberapa waktu lalu.

    Dicky memang berangkat bersama pengusaha Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari Garut, Jawa Barat.

    Karena itu, dia tak mau menyiakan kesempatan tersebut. Selain membawa dodol, juga membawa produk lainnya seperti nasi liwet instan.

    Jika produk ini disambut baik, tak mustahil membuat inovasi lain seperti dodol dengan rasa bajigur atau bahkan bandrek.


     

    “Lagi bikin cokor, cokelat korma. Sekalian ke sana siapa tahu orang Arab juga seneng rasa cabe, rasa bajigur atau bandrek,” katanya antusias.


    Menurutnya, produk-produk asal Garut cukup dikenal di luar negeri saat ini.

    Hal itu juga, impian dan obsesinya memajukan daerah asalnya, meski tidak lagi menjabat Wakil Bupati Garut.

    “Inilah sosok yang tulus berobsesi memajukan Garut. Dia bukan tipikal manusia yang hanya berkeinginan menggerogoti dan merampok APBD Garut”. (Red. garutnews). Sumber
  • Jelajah Garut
    Banyak hal bisa terjadi dalam perjalanan. Bahkan tempat tujuan yang dianggap paling aman pun tidak menjamin kita terhindar dari bahaya kriminal atau huru-hara. Bagaimana cara mencegahnya?

    Sedikit melakukan riset dan menilik kembali pengalaman saya, setidaknya ada beberapa hal yang saya anggap penting untuk memastikan perjalanan saya aman. Tentu saja, apa pun bisa terjadi walau dengan persiapan yang maksimal, tetapi setidaknya risiko itu dapat kita kurangi.

    1. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengemas benda-benda berharga di tas jinjing (carry-on). Saya ingin laptop, kamera, perhiasan, dokumen, semuanya berada langsung di bawah pengawasan saya.

    Saya tak pernah memasukkan benda berharga ke bagasi ketika check-in karena selain berisiko dicuri, penanganan bagasi pesawat sering kali kasar dan asal banting. Tentunya kita tak ingin benda berharga kita rusak, kan?



    2. Setelah mengemasnya dengan rapi, saya juga memastikan tas saya kuat dan tahan lama. Artinya tidak mudah sobek, tidak mudah disobek atau dipotong namun tetap ringan, serta terutama bagian retsleting tidak mudah terbuka.

    Untuk mengunci tas/koper yang masuk bagasi pesawat, saya pastikan menggunakan gembok berstandar internasional, terutama standar TSA (Transportation Security Administration) di Amerika Serikat. Gembok ini selain lebih kuat, juga menggunakan kunci yang masternya dimiliki oleh petugas-petugas TSA.

    Jadi ketika mereka melakukan inspeksi acak, mereka dapat membuka tas saya tanpa harus menghancurkan gemboknya.

    3. Saya juga tidak lupa menyediakan obat-obatan dan pertolongan pertama dalam tas jinjing yang saya bawa di kabin. Jika terjadi apa-apa selama bagasi kita belum di tangan, maka kita bisa langsung mengambil pertolongan yang diperlukan (misalnya plester atau obat). Pastikan juga obat-obatan cair isinya di bawah 100 ml agar tidak dibuang oleh petugas keamanan.

    4. Soal sabuk uang (money belt), tidak semua orang nyaman. Namun, jika ada memang harus melalui daerah yang sangat rawan, tidak ada salahnya membelinya. Sabuk uang dilingkarkan di pinggang atau perut di bawah pakaian sehingga tidak terlihat dari luar. Ini bisa pula jadi tempat membawa paspor (jika harus dibawa bepergian, bila tidak lebih baik titipkan paspor di hotel).

    5. Jika tidak memilikinya, kita bisa membawa tas jinjing kecil yang dapat diakses di depan tubuh. Selalu letakkan tas jinjing di jangkauan pandangan agar tidak kecopetan. Ekstra hati-hati ketika tidur di moda transportasi, seperti perjalanan malam hari di kereta api, misalnya.

    6. Sebelum berangkat, saya menyimpan nomor-nomor penting seperti kedutaan besar, polisi, pemadam kebakaran, maskapai penerbangan, dokter, hotline asuransi, kontak keluarga dan lain-lain dalam sebuah kartu yang bisa dengan mudah diselipkan di dompet atau tas.

    7. Sebagai bagian dari riset perjalanan, saya mempelajari setiap daerah yang akan dikunjungi, dan membaca sedikit sejarah atau situasinya. Misalnya, dalam satu kota pasti ada daerah yang kurang aman. Hindarilah. Ketahui lokasi rumah sakit, polisi dan kedutaan atau konsulat.

    Saya senang dengan perjalanan yang spontan, namun dalam spontanitas itu tetap perlu ada kesiapan informasi, kan?

    8. Bagi yang membawa anak-anak kecil atau orang tua dan lanjut usia, saya sarankan pastikan mereka dalam pengawasan kita. Jika perlu bekali mereka dengan tas kecil yang berisi informasi kontak penting. Ide bagus juga untuk membekali mereka dengan telepon seluler jika usia anak sudah cocok.

    Berikan mereka pengertian untuk tidak menerima pemberian dan ajakan orang asing yang tak dikenal.

    9. Terakhir, jangan lupa untuk menyimpan fotokopi seluruh dokumen, baik dalam format fisik 9. maupun file di Google Docs, USB flashdisk atau CD/DVD.

    Semoga pengalaman pribadi saya berguna bagi Anda. Selamat jalan-jalan!

    Sigit Adinugroho



  • Dari Jakarta, Garut begitu mudah dicapai. Garut menyimpan legenda-legenda menarik yang cocok bagi penggemar kisah-kisah magis. Beberapa kerajaan tua pernah bermukim di Garut.Selain kawasan Cipanas sarat tokoh-tokoh legenda, pun hutan Leuweung Sancang di Garut selatan. Belum lagi pantai-pantai penuh cerita di pesisir selatan Garut.
    Salah satu obyek yang paling menarik sekalligus misterius, Candi Cangkuang.Tertarik menyingkap kemagisan Garut? Coba rencanakan pelesir ke Garut di akhir pekan ini. Jika Anda dari Jakarta, sepulang kerja langsung saja arahkan perjalanan ke Garut dengan naik mobil pribadi atau bus. Waktu tempuh sekitar 4 jam melalui tol Cipularang.




    Pasar Ceplak
    Jumat. Jika Anda berangkat sore, maka tiba di Garut pastilah sudah malam. Nah, di saat perut keroncongan, silahkan berburu makan malam di Pasar Ceplak di Jalan Siliwangi.
    Walau disebut “pasar”, di siang hari kawasan ini hanyalah jalanan biasa. Di malam hari, deretan pedagang kaki lima menyulap jalanan menjadi tempat makan.Belum puas? Ayo mampir ke alun-alun kota Garut. Di malam hari, pasar malam menyemarakan alun-alun. Berbagai kuliner bisa Anda buru di sini, termasuk es goyobod khas Garut.

    Delman Domba
    Mau lebih seru lagi? Ayo jadi kusir deldom atau delman domba. Ya, biasanya delman pakai kuda. Uniknya di Garut, delman ditarik domba.Jangan keasyikan di alun-alun, saatnya mencari penginapan. Pilih saja hotel di kawasan JalanCipanas. Ada banyak hotel mulai dari kelas hotel murah seharga di bawah Rp100 ribu sampai kelas mahal mencapai jutaan rupiah. Tinggal pilih sesuai bujet Anda.
    Sabtu. Saatnya menjelajahi Garut. Arahkan perjalanan kawasan wisata Situ Bagendit. Jaraknya hanya sekitar empat kilometer dari kota Garut. Situ Bagendit berada di Kecamatan Banyuresmi.Masih ingat legenda Nyai Endit? Perempuan kaya namun pelit. Di tengah rakyat kelaparan, ia hidup bermewah-mewah menjadi tengkulak beras para petani miskin.


    Situ Bagendit
    Sampai suatu hari seorang nenek pengemis meminta makan kepada Nyai Endit. Dengan congkak, Nyai Endit mengusir nenek itu. Sang nenek dengan tongkat sakti mendatangkan air bah bagi Nyai Endit.Nyai Endit bersama hartanya pun tenggelam dalam air bah. Genangan air kemudian berubah menjadi danau. Danau itulah disebut Situ Bagendit.
    Di Situ Bagendit, Anda bisa menikmati panorama danau dengan latar belakang danau. Naik saja rakit bambu untuk berkeliling danau. Kelar berwisata di Situ Bagendit, saatnya berburu oleh-oleh. Mampir ke toko-toko, menjual kerajinan kulit domba di sekitar Jalan Ahmad Yani. Jaket kulit domba paling tenar.Tentu belum lengkap tanpa membawa pulang dodol Garut. Nah, Anda bisa berbelanja dodol Garut langsung di pabrik dodol Garut merek di Jl. Pasundan. Atau, pilihan lain menikmati cokelat isi dodol di Jl. Otista.
    Minggu. Pagi-pagi, setelah check-out dari hotel, lanjutkan perjalanan ke Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Leles. Candi ini berada di pulau berada di tengah danau.Jadi, Anda harus melewati Danau Cangkuang menuju pulau tersebut. Cukup naik rakit bambu tersedia dan Anda pun bisa menyeberang danau sambil menikmati panorama.
    Setelah itu, perjalanan dilanjutkan jalan kaki. Anda melewati Kampung Pulo. Di kampung ini terdapat enam rumah tradisional ditempati keturunan Arif Muhammad, penyebar agama Islam di desa ini.Jangan lupa menyapa para penghuni rumah dan mintalah izin melihat-lihat keunikan rumah-rumah tersebut. Di ujungnya terdapat masjid tua sama umurnya dengan rumah-rumah tersebut.
    Setelah melewati Kampung Pulo, lanjutkan jalan kaki ke kawasan Candi Cangkuang. Candi Hindu tersebut diperkirakan dari abad ke-8. Di dalam candi terdapat patung Siwa. Namun, asal usul pasti mengenai candi tersebut masih misteri sampai saat ini.Lepas jelajah Candi Cangkuang, saatnya kembali ke Jakarta. Anda cukup lewat tol Cipularang menuju Jakarta.
    Jika Anda datang bukan dari Jakarta atau dari luar Pulau Jawa, cara termudah ke Garut naik pesawat menuju Bandung. Barulah dari Bandung, Anda lanjutkan perjalanan darat ke Garut.

  • Jelajah Sentra Kerajinan Jaket Kulit Asli Garut

    Jelajah Sentra Kerajinan Jaket Kulit Asli Garut

    Jelajah Garut .. Kota Garut selama ini hanya identik dengan camilan dodol Garut. Padahal, Garut juga punya sentra kerajinan jaket kulit di Sukaregang. Jaket kulit ini istimewa, karena dari kulit domba asli.

    Garut adalah salah satu produsen jaket kulit terbaik di Indonesia. Produk jaket kulit di Garut dihasilkan dari pusat peternakan domba yang tersebar di seluruh Kabupaten Garut.


    Jika Anda tertarik dengan jaket kulit ini, datang saja ke sentra kerajinan jaket kulit Garut, di Sukaregang. Letaknya tak jauh dari pusat Kota Garut. Sentra kerajinan jaket kulit ini sudah cukup terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Ini bisa dilihat dari banyaknya produk jaket kulit Garut yang diekspor ke luar negeri. Desain dan motif yang digunakan pada jaket kulit Garut sangat beragam dan modern. Tidak monoton itu-itu saja, jadi selalu menarik untuk dilihat dan dibeli.

    Saat memasuki kawasan Sukaregang, Anda akan melihat ada banyak jejeran toko yang menjual jaket kulit. Mulai jaket laki-laki, perempuan, dewasa dan anak kecil ada di sini. Model yang ditawarkan pun bervariasi. Pasti membuat pengunjung bingung untuk memilih.

    Masuklah ke dalam toko dan Anda pun bisa melihat aneka barang dari kulit yang dijual. Ternyata, Sukaregang tidak hanya menjual jaket kulit, tetapi juga barang lain seperti tas kulit. Nah, untuk yang senang mengoleksi topi, lengkapi koleksi Anda dengan membeli topi kulit asli buatan Sukaregang.

    Aneka produk buatan Sukaregang baik jaket atau pun aksesoris lainnya memang 100 persen  kulit asli, soal harga tergantung jenis barang, ketebalan, dan modelnya. Sebagai contoh, untuk aksesoris seperti tas dari kulit dikenai harga mulai dari Rp 80.000.
     
     ..
    Untuk jaket, ada pilihan unik yang bisa dicoba yaitu jaket yang terbuat dari sisa-sisa potongan kulit. Jaket tipe ini dikenai harga mulai Rp 650.000. Beda ketebalan, beda harga tentunya. Untuk jaket yang tebal dan menutup seluruh tubuh, bisa dikenai harga Rp 700.000-2.000.000. Ya, harganya memang bervariasi, tergantung dari model, ketebalan jaket, dan tentu saja kemampuan menawar Anda.

    Selain toko yang menjual kerajinan jaket kulit, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan jaket kulit. Mulai dari kulit yang baru dikuliti, hingga proses penjahitan bisa pengunjung saksikan.

    Ya, Anda memang bisa melihat pembuatan secara langsung karena industri jaket kulit di sini merupakan industri rumahan. Kemampuan produksi rata-rata tiap produsen mencapai 2.000 jaket per bulan. Wow! Sumber
  • Oleh : Mia Winarti Syaidah
    Oleh : Mia Winarti Syaidah

    Jelajah Garut . Jika kamu, mengukuhkan diri sebagai seorang Priyai Indonesia yang ternyata suatu hari ditakdirkan mampir ke Garut, lalu setelah sampai mencari makanan siap saji, seperti junkfood, franchise atau makanan delivery order ala turis.

    Sepertinya harus berfikir ulang tentang integritas diri sebagai orang Indonesia.

    Sejenak, coba introspeksi diri. Seberapa dalam kamu memahami toleransi terhadap keragaman makanan di seantero Indonesia ini. Selain banyak pulau, Indonesia juga tersohor kulinernya yang sangat beragam, tak terkecuali kota kecil seperti Garut.

    Memesan makanan ala bule di kota yang masih ranum seperti Garut, tak ubahnya pelecehan terhadap kekayaan budaya yang menjadi bagian dari identitas rakyatnya.

    Dan jika tetap ngotot dengan keinginan itu, jangan marah jika dikategorikan sebagai tiran, yang menjadi sesosok tubuh tanpa indentitas.

    Menurut aktor Butet Kartaredjasa, perkara memangsa dan memanjakan lidah ini, bukan sekedar urusan mengganjal perut. Bukan pula sekedar energi penganjal tubuh. Tetapi lebih dari itu, perkara kuliner hendaknya difahami sebagai sebuah pencapaian kebudayaan.

    Karena disana kecerdasan meracik bumbu memilih bahan baku hewani, memadukan dengan sayur mayur dan memformulasikannya dengan rempah-rempah alami, usaha ini harus diartikan sebagai ikhtiar menemukan titik puncak kelezatan.

    “Dan pastilah pencapaian demi pencapaian yang berujung menjadi resep-resep masakan lokal itu, telah melewati berbagai eksperimentasi teruji waktu. Inilah sebuah tindakan kebudayaan yang bergerak dengan alamiah,” ujarnya, dalam artikel ditulis di majalah Gong edisi 104/IX/2008.

    Berjalanlah dulu di Jl. Ahmad Yani. Disana jika pagi hari tiba, nongrong berbagai gerobak dan tenda-tenda kecil menyajikan makanan ringan dan pas buat sarapan pagi, sepeti bubur ayam dibandrol Rp5 ribu per mangkuknya. Atau yang suka makanan berkuah, boleh nyoba lontong dengan kuah daging kari (Lengko) dan soto ayam dengan harga Rp4 ribu per mangkok.

    Bagi yang senang makanan yang pasti, jangan kecewa dahulu, di Jl. Ahmad Yani ini ada juga nasi kuning dan nasi tutug oncom dengan aneka lauk menggugah selera.

    Sore hari, tak kalah mengenyangkan.

    Setelah puas jalan-jalan menikmati hiruk pikuk kota Garut, jangan langsung pulang. Karena menjelang sore lidah bakal dimanjakan makanan lesehan dengan bumbu dapur dan lalapan khas Sunda.

    Sembari rehat bisa nongrong menikmat hidangan di Pasar Ceplak. Dari namanya kebayang kan kalau jalan itu isinya makanan bakal bikin lidah ngiler.

    Menu-menu yang bisa dipilih makanan penyetan seperti ayam goreng dan ayam bakar dibandrol mulai Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, bahkan makanan ringan, mulai gorengan, onde, es goyobod, roti bakar sampai martabak manis dan bakso pun harganya dijamin nggak bakal bikin kantong seret.

    Berjalan sedikit ke arah kantor post bakal mendapati makanan legendaris dari Garut. Penasaran?

    Apalagi kalau bukan, “Coooolenak beuleum peuyeum digulaan, dicocoool enak bari peureum duduaan….~..,” tuh ada lagunya.

    Yap Colenak. Makanan tradisional yang tidak asing lagi bagi lidah orang Sunda ini telah menjadi makanan legendaries di Garut.

    Rasanya yang sederhana membuat colenak tak banyak menuntut lidah orang asing untuk merasakan kenikmatannya.

    Perpaduan tape singkong dibakar, kemudian ditaburi gula jawa bercampur kelapa dan taburan kacang itu. Membayangannnya saja lidah pasti sudah langsung akrab.

    Colenak memang jauh dari perpaduan toping makanan modern, seperti keju, mayones atau selai kacang yang biasa ada di dalam makanan siap saji ala bule. Tapi karena itu nilai lokalitas yang ada didalamnya membaut colenak tak hengkang dimakan waktu.

    Contohnya pak Amat (45). “Saya udah jualan sejak tahun 90-an itupun menggantikan bapak saya,” ujar bapak owner Colenak Madurasa ini.

    Dalam sehari, pak Amat menjual sebanyak 35 kilogram colenak. “Kalau habis, saya bisa membawa uang sekitar 100 ribuan,” ujar bapak dua anak ini.

    Untuk urusan harga, jangan khawatir sebungkus colenak hanya Rp3 ribu.

    Nah sekarang, nggak perlu bingung dan ngotot lagi buat nikmatin makanan diinginkan bukan? ujarnya. *****(garutnews ).

Comments

The Visitors says